A Misunderstanding
2013
serigraph on chipboard
40 x 28 inches
with 500+ 4x6 take-away cards, screenprinted on chipboard
YES

A Misunderstanding
2013
serigraph on chipboard
40 x 28 inches
with 500+ 4x6 take-away cards, screenprinted on chipboard
YES


Salah satu quote saat ini yang menginspirasiku *halah* haha
Pasti sering denger ada orang yang bilang, “bekerjalah dengan passion-mu”, “terus gali potensi bakat dan minatmu” atau “lakukan apa yang kamu suka”. Yah bener sih, kalo kita ngelakuin apa yang kita suka atau passion kita selama ini pasti rasanya nyenengin banget dan ikhlas mau ngapa-ngapain (maksudnya eh haha). Tapi aku yakin gak semua orang bisa seberuntung itu untuk melakukan apa yang mereka suka. Comfort zone, bisa dikatakan juga sebagai zona nyaman kita atau daerah yang bikin kita nyaman dan gak mau beranjak kemana-mana. Comfort zone dan lingkungan atau pekerjaan yang kita suka saling berhubungan erat, eraat banget selengket krim sama butiran kacang *nyam*
Nah kembali ke soal tadi, gak semua orang bisa melakukan atau menggapai comfort zone itu. Ada saat dimana orang itu beruntung bisa ada di zona tersebut tapi karena suatu hal harus beranjak keluar dan get a true life. Dunia itu luas, gak sebatas apa yang hanya kita suka, contoh paling gampang ya ketika ada anak yang biasa dimanja orangtuanya lalu tiba-tiba karena kecelakaan atau di-phk terus hidupnya jadi sengsara. Aku juga pernah mengalami ketika sudah menggapai dan berada di comfort zone itu, eh karena suatu sebab harus keluar dan mengarungi derasnya dunia yang bener-bener 180 derajat bertolak belakang dari zonaku sebelumnya.
Comfort zoneku ada di kampus desain, lalu karena suatu hal yang ga bisa aku ceritakan disini (ga etis sih sebenernya haha) harus pergi dari situ dan masuk ke dunia yang bener-bener baru. Nah pas daftar niatnya sih banting setir di jurusan yang jadi cita-citaku dari kecil, arsitektur. Tapi eh malah dimasukin ke pilihan ke-3 di Hubungan Internasional. Rasanya sempet shock dikit dan ditanyain lagi sama orangtuaku,
“bener san kamu mau masuk sini? atau mau daftar lagi biar masuk arsitektur?”
tapi aku langsung jawab dengan tegas,
“enggak usah bu, biar aku masuk HI aja”
Pertama masuk sini rasanya seperti ditantang, apakah aku bakal bisa ngehadepin ini semua? Nanti kerja apa? Temen-temennya gimana? Dan tantangan ini gak akan pernah selesai walau aku lulus dan jadi sarjana HI. Karena nanti akan ada level selanjutnya yaitu pekerjaan :D
Tapi yasudahlah aku gak bakal terlalu banyak curhat sampe disini :P
Hidup kamu dimulai dari berakhirnya zona nyaman. Tapi di comfort zone itu juga ga bisa dikatakan 100% bener-bener nyaman, ada beberapa masalah kecil yang terkadang bikin kita harus memutar otak untuk menyelesaikannya tapi karena ga seberapa berat, kita enjoy melakukannya. Yang bener-bener menantang ya itu tadi, out of your comfort zone and get another life. Disini aku gak maksa kamu harus keluar dari comfort zone, tapi cuma menegaskan bahwa ada hal-hal yang bisa kamu lakukan dan lebih menantang untuk dikerjakan. Kita hidup sebagai makhluk sosial sekaligus sebagai makhluk individual, ada saat dimana kita boleh bersantai tapi ada saat dimana kita harus ‘berpetualang’ menemukan hal yang ga lazim di kamus diri kita, asal bisa menempatkan keduanya di porsi yang benar.


Daridulu aku pengen jadi vegan tapi gagal mulu. Oke kesampingkan ini
Lalu pada suatu hari ketika ibuku ngobrol sama ayahku, tiba-tiba ayah mengeraskan suaranya lalu aku mulai nimbrung dengan keduanya.
Ternyata kita sedang membahas tentang bahan makanan.
Ibuku bercerita kalau di negara Barat mereka jarang-hampir tidak pernah menggunakan minyak kelapa sawit untuk menggoreng, mereka menggunakan minyak zaitun saja. Dan ayahku berekspresi makes sense lah wong itu negara enggak bisa menghasilkan minyak kelapa sawit sendiri, rata-rata pada impor semua dari negara-negara timur tengah dan Indonesia. Yah emang bener sih, tapi aku gak terlalu suka cara men-judge versi ayahku yang kelihatannya sangat puas sekali memojokkan ibuku lol.
Kemudian lanjut ke pembicaraan mengenai beras merah. Jadi ceritanya hari Selasa kemarin pesenanku dateng, aku mesen beras merah 2 kg seharga 68k. Padahal, jaman orde lama, ini beras merah tergolong berasnya orang miskin lho! Bahkan dipakai untuk makanan kuda dan hewan ternak lain. Entah karena mata dunia terbuka atau emang dunia kesehatan sudah mempelajari akan kegunaan beras merah, harga beras ini langsung melonjak naik. Tapi ga heran juga sih, yang aku pesen kan beras merah organik, yang pake embel-embel organik pasti jelas mahalnya :D
Ga usah tanya masak beras ini hasilnya gimana, hasilnya udah jelas kelihatan = GAGAL! Namanya juga belum pernah bikin beras ginian jadi wajar kalo gagal. Percobaan pertama harus dibuang dengan miris dan meringis mengingat betapa mahalnya harga beras merah organik ini. Tapi ya sudahlah, anggap saja ini cobaan dan semoga masakan kedua lebih baik dan pulen lagi.
Ayahku bilang, coba kalau banyak peneliti di Indonesia yang cerdas, pasti nasi putih bisa diubah menjadi nasi yang bernutrisi dan bagus untuk masyarakat kita. Oke aku setuju tapi aku ga setuju dibagian ayahku yang skeptis tentang pendapat dan penelitian profesor di negara-negara Barat. Mereka pekerja keras! Banget! Saking kerasnya kerja mereka sampai-sampai ada salah satu diantaranya yang menjadi provokator atau pelit terhadap negara lain termasuk negara berkembang :p ah oke, hanya sebagian kecil kok.
Lalu ayahku mengatakan, ngapain kita ikut-ikutan mereka pake acara makan roti gandum atau wholegrain blablabla. Supir dan tukang gak mungkin sarapan pake bahan gandum dan semacamnya karena mereka pasti gak bakal kuat kerja. Mereka makan nasi sebakul juga ga bakal kena penyakit karena penyakit mereka dibuang melalui keringat yang lebih banyak menguras fisiknya dibanding orang elitis yang hanya menggunakan otaknya tanpa menguras tenaga fisik. Yap, ini aku setuju karena metabolisme dan pekerjaan tiap individu berbeda tapi aku gak setuju kalo dikatakan makan gandum bukan makanan yang cocok untuk tukang. Kita emang negara penghasil beras tapi tidak menutup kemungkinan kita juga jago buka ladang gandum dan andaikata beras tidak pernah eksis di negara ini, tukang dan supir pasti makannya gandum sebakul juga.
Ini hanya masalah kebiasaan aja, gak lebih.
